Menjadi Pemilih Pemula Kritis

Alfi Rahma Syafitri telah memasuki usia 17. Belia imut asal Mondan, Kecamatan Hutabargot  ini, menyebutkan, kelahirannya tepat pada 2 Juli 1999. Artinya, di tahun 2017 dia sudah bisa dikategorikan sebagai pemilih pemula.    

Alfi Rahma Syafitri

Alfi Rahma Syafitri

Bagi siswi SMA IT Al Husnayain Panyabungan ini, memberikan hak pilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) bukanlah suatu hal yang baru. Pasalnya, dia kerap memperhatikan orang tua serta beberapa saudara kandung, juga para tetangga yang telah ikut menjadi pemilih pada pemilihan yang digelar di kampungnya. Tahun 2014, ada penyelenggaraan Pemilu legislatif untuk memilih wakil rakyat yang didudukkan di kursi DPR RI, DPD RI, DPRD propinsi, serta DPRD kabupaten. Di tahun berikutnya, digelar pula pemilihan bupati dan wakil bupati Mandailing Natal. Baru-baru ini, bahkan diselenggarakan pemilihan kepala desa secara serentak di bumi gordang sambilan. Hal yang demikianlah yang membuatnya merasa tak asing dengan kegiatan memilih.

Dia juga mengetahui soal pemilihan gubernur dan wakil gubernur yang baru saja digelar di DKI Jakarta. Ketika disinggung soal pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara yang direncanakan digelar pada 2018, matanya berbinar diiringi senyum merekah. “Saya akan ikut memilih,” ungkapnya.

Miniatur Demokrasi

Di sekolah berasrama ini, siswa-siswa tampaknya memang sudah terbiasa dengan kegiatan memilih. Soalnya, untuk menentukan siapa yang didaulat menjadi ketua dan wakil ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), para guru tidak serta-merta menunjuk siswa tertentu. Akan tetapi, siswa-siswi sendiri yang memilih temannya untuk dijadikan sebagai pemimpin.

Caranya, mereka menggelar suatu pemilihan yang aturan mainnya mirip dengan proses pemilihan yang  digelar KPU.

Berdasarkan keterangan Kepala SMA IT Al-Husnayain Panyabungan, Freddy Sanda Putra Hasibuan, para siswa memilih langsung ketua dan wakil ketua OSIS. Sedangkan para guru hanya bertindak sebagai pengamat dan pembina kegiatan saja. Penyelenggaraan pemilihan pengurus OSIS murni dilakukan oleh seluruh siswa.

Anggota KPU Madina Divisi teknis, Mas Khairani (kanan) didampingi Anggota KPU Madina Divisi Perencanaan dan Data, Asrizal Lubis (tengah) saat berbincang-bincang dengan Kepala Sekolah SMA IT Al-Husnayain, Freddy Sanda Putra Hasibuan (kiri).

Anggota KPU Madina Divisi teknis, Mas Khairani (kanan) didampingi Anggota KPU Madina Divisi Perencanaan dan Data, Asrizal Lubis (tengah) saat berbincang-bincang dengan Kepala Sekolah SMA IT Al-Husnayain, Freddy Sanda Putra Hasibuan (kiri).

Alumni IAIN Padang Sidempuan ini mengisahkan, pada pemilihan pengurus OSIS yang lalu, ada dua partai yang berlaga. Masing-masing partai mengusung pasangan calonnya untuk didudukkan sebagai pengurus OSIS. Prosesnya mirip-mirip seperti penyelenggaraan Pemilu yang sesungguhnya. Ada panitia pemilihan yang bertugas mengatur dan menyelenggarakan seluruh rangkaian pemilihan, mulai dari persiapan hingga penetapan calon terpilih. Juga ada komponen pemilih yang berasal dari seluruh siswa, ada surat suara, kotak suara, serta papan pengumuman yang dijadikan sebagai bagian dari media perhitungan perolehan suara pasangan calon. Nah, untuk tugas pengawasan, disepakati seluruh siswa bertindak sebagai pengawas.

Pemilihan berlangsung dengan damai. “Kalau rusuh-rusuh, selama ini, tidak ada. Pemilihan pengurus OSIS berjalan aman dan demokratis,” ujarnya.

 

Sosialisasi Pemilihan

Bertemu dengan belia-belia ceria, Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Mandailing Natal (KPU Madina) memang selalu menyempatkan diri berdialog dengan pihak sekolah – kepala sekolah dan guru, termasuk para siswa – untuk mengetahui pemahaman siswa mereka terkait seputar Pemilu. Dalam kegiatan sosialisasi kepada pemilih pemula di SMA IT Al-Husnayain yang digelar awal Maret, anggota KPU Madina, Asrizal Lubis sempat dicecar siswa beberapa pertanyaan.

Anggota KPU Madina Divisi Perencanaan dan Data, Asrizal Lubis (berdiri paling kiri) saat menyampaikan materi pendidikan pemilih di SMA IT Al-Husnayain Panyabungan

Anggota KPU Madina Divisi Perencanaan dan Data, Asrizal Lubis (berdiri paling kiri) saat menyampaikan materi pendidikan pemilih di SMA IT Al-Husnayain Panyabungan

Mulia Diansyah, misalnya. Sembari melontarkan pertanyaan, dia sempat mengkritisi jalannya proses pemungutan suara yang baru-baru ini berlangsung di propinsi DKI Jakarta. Mulia memperoleh informasi dari media sosial. “Jika syarat menjadi pemilih berusia mulai 17 tahun atau atau sudah pernah menikah, mengapa pemilihan gubernur di Jakarta, ada orang yang belum cukup umur tapi sudah diikutkan memilih? Ini yang salah, siapa?”

Asrizal memang  telah menjelaskan kepada para siswa yang menjadi peserta sosialisasi soal syarat-syarat seseorang dapat ikut menjadi pemilih. Termasuk perihal kecukupan usia apabila belum pernah menikah. Dalam uraian penjelasan untuk menjawab pertanyaan itu, Asrizal sempat menghimbau agar setiap warga masyarakat, termasuk siswa yang menjadi pemilih pemula, untuk pro aktif melakukan tindakan pengawasan. Sehingga dalam setiap ajang kegiatan memilih di TPS tindakan-tindakan yang mengarah pada kecurangan, dapat diminimalisir.

Pertanyaan bernilai kritis selanjutnya juga diungkap oleh siswa bernama Mujiburrohman. Amatannya pun tak jauh beda dengan Mulia Diansyah, soal informasi yang berseliweran di dunia maya. Dia menanyakan apakah benar hasil perhitungan suara yang sudah masuk ke KPU dapat diubah-ubah.

Menyimak pertanyaan tersebut, Asrizal menguraikan lebih dalam soal proses perhitungan suara hingga hasil perolehan suara para kandidat diumumkan oleh KPU secara resmi. Dia juga menyampaikan satu model formulir C-1 serta lampirannya yang wajib diterbitkan KPU di portal resmi milik KPU dalam bentuk hasil scan atau pindai. “Formulir yang di scan ini merupakan catatan hasil pemungutan dan perhitungan suara di tingkat TPS yang dapat dilihat masyarakat di dunia  maya. Fungsinya sebagai data pembanding , bukan menjadi data akhir.” jelasnya.

Usai memberikan sosialisasi kepada pemilih pemula di sekolah ini, pria bermarga lubis lulusan Fakultas Ushuluddin IAIN Medan ini, mengaku gembira menyimak kedalaman pengetahuan para siswa soal proses pemilihan. Para siswa dipastikan tidak buta-buta amat soal Pemilu. Lebih dari itu, mereka juga sudah punya wawasan yang terbilang cukup baik terkait proses Pemilu di Indonesia. #(Mas Khairani).

Simpan Sebagai PDF  Simpan Sebagai Dokumen MS Word  Simpan Sebagai HTML  Simpan Sebagai Teks  Cetak Halaman

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Kontras
Perbesar Hurup